“Segalanya ada di Bali,” kata Desiree Djorghi.
“Sejak kecil saya selalu terpesona pada Bali. Orang bisa berlibur, menikah, merasakan suasana religius atau bekerja dalam dunia wisata,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1976 ini, mengemukakan mengapa ia selalu terpesona Pulau Dewata itu. Kecintaannya pada pulau ini membuatnya harus kembali ke tanah air meski sepuluh tahun, begitu ia melepas sekolah menengah, dihabiskannya di Amerika Serikat untuk berkuliah dan bekerja.
Padahal, lulusan jurusan bisnis dari California State University of Northridge ini sempat mengenyam karier yang tak kalah menyenangkan. Selepas kuliah, ia bekerja di sebuah event organizer yang sering didaulat mengadakan pesta para selebriti Hollywood. Salah satu event yang pernah ia gelar adalah menggelar pesta ulang tahun si kembar Mary-Kate Olsen dan Ashley Olsen. Tahun 2005, ia pulang ke Jakarta untuk beberapa tahun berbisnis event organizer dan pengelolaan property, untuk kemudian mendirikan perusahaan persewaan dan pengelolaan villa-villa mewah di Bali mulai tahun 2008 lalu.
“Kami memasarkan banyak villa di semua tempat paling popular di Bali, seperti Seminyak, Ubud, Uluwatu, Canggu. Kami memiliki beragam pilihan villa yang dipilih dengan sangat cermat demi kepuasan klien,” kata perempuan yang biasa dipanggil Desi ini menjelaskan.
Minat dan kebutuhan klien yang seringkali sangat spesifik adalah tantangan terbesar di bisnis ini. Tak heran, dengan cermat ia akan memaparkan dan menawarkan jasa yang diberikan perusahaannya, seperti paket tur, aktivitas luar ruang, atau bahkan paket meditasi. Dengan tinggal di villa yang tidak saja aman, nyaman dan sesuai dengan kebutuhan spesifik klien, diharapkan mereka akan kembali dan kembali lagi menggunakan jasa perusahaannnya. “Saya percaya, properti dan turisme memegang peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, kini dan masa depan. Tak bisa dielakkan, Bali menjadi salah satu bagian penting dari sektor ini,” katanya dengan sumringah, sambil menunjukkan alamat situs web perusahaannya, www.mata-bali.com
Bisnis properti tampaknya telah mendarah daging dalam tubuh perempuan yang ketika kecil bercita-cita jadi psikolog ini. Maklum, ayahnya seorang pengembang properti yang telah membangun lebih dari 100 gedung dan rumah. Meski begitu, Desi yang menjabat sebagai CEO di Mata Bali, nama perusahaan pengelola properti yang dimilikinya itu, tidak dimanja begitu saja saat memulai berbisnis. “Banyak hal saya lakukan sendiri. Sepuluh tahun hidup di Amerika Serikat membuat saya menjadi pribadi mandiri,” ungkap pebisnis yang ingin mengembangkan sayap bisnisnya di banyak kota lain di Indonesia itu. Tak heran, jika di Bali ia tinggal sendiri dan melakukan banyak hal sendiri. “Bahkan menyiapkan sarapan, menyetir, termasuk mencuci mobil saya lakukan sendiri lho!,”katanya. “I’m an independent and easy going woman,” jawabnya saat ditanya bagaimana ia menggambarkan dirinya dalam satu kalimat.
Prodo Indonesia, No.9/Th IX Juli 2009 |